Featured Product
  Madecol MadeCol merupakan kapsul herbal alami yang antara lain terbuat dari ekstrak daun jati belanda dan akar alang-alang untuk menormalkan kadar kolesterol. Sebagian ekstrak herbal dalam MadeCol juga menggunakan teknologi terbaru yaitu teknologi nano. Dengan teknologi nano , partikel herbal menjadi lebih kecil sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Selengkapnya ... JAMSI   Jamsi secara tradisional bermanfaat bagi penderita diabetes karena mampu memperbaiki sel-sel, menurunkan kadar gula yang tinggi dalam darah, mencegah terjadinya diabetes, menetralisir penyakit,seperti: Hipertensi, asam urat, kolesterol dan Trigliserite. Selengkapnya...

Kondisi Tubuh Sakit Sebelum Berkembang Jadi Serius

Jakarta, Jauh sebelum seseorang didiagnosa menderita diabetes, kanker serviks dan penyakit lainnya, dirinya telah mengembangkan suatu kondisi yang berada di ambang batas normal.

Periode ini sangatlah penting, di mana seseorang harus segera mengubah gaya hidup untuk memperlambat perkembangan penyakit atau mencegahnya sama sekali.

Namun, sebagian besar kondisi pra-penyakit tidak memiliki gejala nyata, jadi Anda memerlukan pengujian lebih dini untuk mengetahui risikonya karena Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda telah melewati batasan normal.

Seperti dilansir womansday, Selasa (2/10/2012) berikut adalah 5 kondisi pra-penyakit yang dapat Anda cegah perkembangannya:

1. Prehipertensi Sebelum Berubah Jadi Hipertensi

Prehipertensi juga dikenal sebagai tekanan darah yang cukup tinggi hingga mencapai batas hampir hipertensi yaitu antara 120/80 mmHg dan 139/89 mmHg, dibandingkan dengan tekanan darah normal yang kurang dari 120/80 mmHg.

Secara umum, tidak ada gejala untuk prehipertensi atau hipertensi, sehingga penting untuk melakukan skrining rutin. American Heart Association menyarankan untuk memeriksa tekanan darah setidaknya setiap dua tahun sekali, bahkan jika tekanan darah Anda biasanya normal sekalipun.

Dokter juga merekomendasikan pemeriksaan yang lebih sering bagi penderita diabetes, kelebihan berat badan, perokok, atau orang yang memiliki riwayat keluarga penderita hipertensi. Dengan memodifikasi diet yang seimbang, memotong asupan garam, dan memulai berolahraga dapat membantu menurunkan tekanan darah dan meminimalkan risiko terkena hipertensi dan penyakit jantung.

2. Displasia Serviks Sebelum Kena Kanker Serviks

Displasia serviks adalah tumbuhnya sel-sel abnormal pada leher rahim, yang mungkin menjadi penyebab kanker serviks. Sebagian besar kasus displasia serviks terjadi antara usia 25 sampai 35 tahun, meskipun dapat menyerang seseorang pada usia berapapun.

Displasia serviks atau pra-kanker serviks dapat membuat seseorang lebih berisiko terhadap human papillomavirus (HPV), virus yang ditularkan secara seksual. Selain HPV, faktor lain yang dapat meningkatkan peluang seorang wanita terkena kanker serviks, termasuk gonta-ganti pasangan seksual, memiliki riwayat penyakit menular seksual, sistem kekebalan tubuh yang lemah dan merokok.

Biasanya, tidak ada gejala yang menunjukkan perubahan pra-kanker serviks. Namun jika terjadi pendarahan setelah berhubungan seks, mungkin hal tersebut termasuk tanda-tanda tumbuhnya sel kanker dalam rahim.

Deteksi displasia serviks lebih dini dengan melakukan pap test dan lindungi diri dengan menggunakan kondom ketika berhubungan seks agar tidak tertular HPV. Skrining sangat penting dilakukan di segala usia. Pap test dapat dilakukan hingga enam bulan sekali untuk memantau sel-sel rahim tetap dalam kondisi baik.

Jika seseorang telah didiagnosa menderita displasia serviks, segera lakukan tindakan pengobatan dengan penghapusan sel kanker karena kondisi tersebut akan berkembang menjadi kanker serviks pada waktu 10 sampai 20 tahun mendatang jika dibiarkan.

3. Pra-Diabetes Sebelum Jadi Diabetes

Jika kadar gula darah berada pada batas atas ukuran normal, seseorang dikatakan menderita pra-diabetes, yang dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2 dalam waktu 10 tahun. Diabetes terjadi ketika mekanisme tubuh tidak seimbang dan tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup untuk mengubah makanan menjadi energi.

Baik pra-diabetes atau diabetes tidak menunjukkan gejala-gejala yang jelas, tetapi jika Anda mengalami kehausan atau kelaparan berlebihan, kelelahan, kesemutan di kaki dan sering buang air kecil mungkin menandakan bahwa kadar gula dalam darah Anda meningkat.

Pengujian untuk diabetes harus dilakukan setiap 3 tahun sekali bagi orang dengan usia lebih dari 45 tahun. Pengujian lebih dini dianjurkan bagi orang yang kelebihan berat badan, tidak aktif secara fisik, memiliki tekanan darah atau kolesterol tinggi, memiliki riwayat keluarga diabetes, riwayat diabetes gestasional, atau orang dengan riwayat sindrom ovarium polikistik.

Orang dengan pra-diabetes harus diuji setiap satu atau dua tahun untuk memastikan kondisi belum berkembang. Dengan memangkas berat badan hingga 5 sampai 10 persen dan lebih aktif bergerak dapat memperlambat perkembangan pra-diabetes menjadi diabetes atau mencegahnya sama sekali.

Latihan tingkat sedang sebanyak 30 menit sehari atau bahkan hanya berjalan kaki sebanyak lima hari dalam seminggu telah terbukti memiliki manfaat yang luar biasa dalam pencegahan diabetes. Selain itu, jagalah pola makan dengan menghindari lemak jenuh, kolesterol, gula halus dan pati yang berat, melainkan memilih daging tanpa lemak dan sayuran sebanyak mungkin.

4. Osteopenia Sebelum Jadi Osteoporosis

Osteopenia adalah massa tulang yang rendah, suatu kondisi di mana tulang menjadi rapuh, mudah retak dan dapat menyebabkan osteoporosis. Osteopenia dan osteoporosis tidak memiliki gejala tertentu dan kebanyakan orang baru menyadarinya setelah mengalami patah tulang.

Untuk mengonfirmasi apakah kondisi tulang Anda dalam keadaan baik, lakukan tes kepadatan mineral tulang (BMD) untuk mengetahui jumlah kepadatan massa tulang di bagian pinggul dan tulang belakang.

Pada umumnya, tes ini dilakukan terhadap wanita menopause, karena umunya osteopenia dan osteoporosis terjadi pada wanita menopause. Setelah menopause, tidak ada lagi efek perlindungan dari estrogen pada tulang dan tulang mengalami penurunan kekuatan 3 sampai 5 persen per tahun selama lima sampai tujuh tahun ke depan.

Wanita postmenopause harus menjalani tes BMD setiap satu atau dua tahun. Sedangkan wanita premenopause harus melakukan pengujian terhadap faktor risiko osteoporosis, yang meliputi berat badan rendah, asupan kalsium yang rendah, konsumsi alkohol atau kafein yang berlebihan, kurang olahraga, merokok, atau riwayat keluarga osteoporosis.

Jika Anda didiagnosis menderita osteopenia, ada beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk memperlambat atau mencegah rapuhnya tulang dan risiko patah tulang. Tingkatkan asupan kalsium hingga 1.000 mg per hari bagi wanita di bawah 50 tahun dengan mengonsumsi makanan berkalsium dan mengambil suplemen.

Bagi wanita di atas usia 50 tahun, harus mengonsumsi 1.200 mg kalsium per hari. Menurut The Journal of American Medical Association, kebiasaan lain yang dapat membantu mencegah osteoporosis termasuk meningkatkan asupan vitamin D dengan cara mengekspos kulit selama 10 menit sehari terhadap sinar matahari pagi atau mengonsumsi suplemen vitamin D, berolahraga secara teratur dan menghindari faktor risiko seperti merokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan.

5. Polip kolon Sebelum Jadi Kanker Kolon

Polip kolon adalah pertumbuhan polip kecil pada usus besar (kolon) dan rektum. Jika polip pada usus besar dibiarkan dan tidak diobati, 8 sampai 12 tahun lagi diperkirakan dapat berkembang menjadi kanker.

Kondisi polip kolon ini tidak menunjukkan gejal-gejala tertentu dan dapat diidentifikasi dengan empat jenis tes, yaitu sigmoidoskopi, kolonoskopi, double-contrast barium enema, dan colonography CT.

Jika polip terdeteksi selama dilakukan pengujian dengan metode sigmoidoskopi atau kolonoskopi, polip biasanya dihapus atau dibiopsi dan diuji untuk kanker. Kemudian Anda perlu memperbaiki gaya hidup termasuk berolahraga secara teratur, makan makanan yang sehat seperti buah-buahan segar, sayuran, dan daging tanpa lemak, tidak merokok dan tidur yang cukup.

Bagi orang yang berisiko terhadap kanker kolon, kolonoskopi sebaiknya dilakukan setiap 10 tahun sekali dimulai pada usia 50 tahun. Sejumlah faktor yang dapat menyebabkan peningkatan risiko polip usus besar, termasuk riwayat keluarga dengan polip kolorektal atau kanker, penyakit radang usus, sindrom kanker kolorektal dan faktor gaya hidup seperti diet tinggi daging merah dan makanan olahan, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol dan diabetes tipe 2.

 

 

 

Sumber : detikhealth.com

Share

Leave a Reply

Kategori Produk
Madu Herbal Kapsul Herbal Minuman Instan Aromatherapy
Tetes Mata Herbal Paket Herbal Herbal Kering
Kategori Artikel