Featured Product
  Madecol MadeCol merupakan kapsul herbal alami yang antara lain terbuat dari ekstrak daun jati belanda dan akar alang-alang untuk menormalkan kadar kolesterol. Sebagian ekstrak herbal dalam MadeCol juga menggunakan teknologi terbaru yaitu teknologi nano. Dengan teknologi nano , partikel herbal menjadi lebih kecil sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Selengkapnya ... JAMSI   Jamsi secara tradisional bermanfaat bagi penderita diabetes karena mampu memperbaiki sel-sel, menurunkan kadar gula yang tinggi dalam darah, mencegah terjadinya diabetes, menetralisir penyakit,seperti: Hipertensi, asam urat, kolesterol dan Trigliserite. Selengkapnya...

Gumpalan Darah Saat Kehamilan ( Sindrom Antifosfolipid )

Jakarta, Deskripsi

Sindrom antifosfolipid adalah gangguan di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menghasilkan antibodi terhadap protein normal tertentu dalam darah. Sindrom antifosfolipid dapat menyebabkan terbentuknya gumpalan darah dalam arteri untuk atau vena serta komplikasi kehamilan, seperti keguguran dan bayi lahir mati.
Gumpalan Darah Saat Kehamilan ( Sindrom Antifosfolipid )
Sindrom antifosfolipid dapat menyebabkan pembentukan gumpalan darah di kaki, yang merupakan sebuah kondisi yang dikenal sebagai deep vein thrombosis (DVT). Sindrom antifosfolipid juga dapat menyebabkan gumpalan darah yang terbentuk dalam organ-organ, seperti ginjal atau paru-paru.

Kerusakan tergantung pada luas dan lokasi bekuan darah. Sebagai contoh, sebuah gumpalan di otak dapat menyebabkan stroke. Tidak ada obat untuk sindrom antifosfolipid, tetapi obat-obatan dapat efektif dalam mengurangi risiko penggumpalan darah.

Penyebab

Dalam sindrom antifosfolipid, tubuh keliru menghasilkan antibodi terhadap protein yang mengikat fosfolipid. Antibodi tersebut hadir dalam lemak darah yang memainkan peran penting dalam pembekuan (koagulasi). Antibodi adalah protein khusus yang biasanya menyerang tubuh, seperti virus dan bakteri.

Ada dua klasifikasi utama dari sindrom antifosfolipid:

1. Primer
Jika tidak memiliki gangguan autoimun lainnya, seperti lupus eritematosus sistemik (SLE), mungkin memiliki sindrom antifosfolipid primer.
2. Sekunder
Jika memiliki lupus atau kelainan autoimun, sindrom antifosfolipid termasuk daam klasifikasi sekunder.

Dengan sindrom antifosfolipid sekunder, penyebabnya adalah dianggap lupus atau gangguan autoimun lainnya. Penyebab sindrom antifosfolipid primer tidak diketahui. Namun, beberapa faktor yang terkait dengan pengembangan antibodi antifosfolipid dapat termasuk:

1. Infeksi
Orang dengan sifilis, infeksi HIV, hepatitis C, dan malaria, memiliki insiden yang lebih tinggi memiliki antibodi antifosfolipid.

2. Obat-obatan
Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti hydralazine yang merupakan obat tekanan darah tinggi, obat-obatan yang mengatur irama jantung, obat anti-kejang fenitoin (Dilantin), dan antibiotik amoksisilin dapat menyebabkan peningkatan risiko.

3. Kecenderungan genetik
Meskipun gangguan ini tidak dianggap turun-temurun, penelitian menunjukkan bahwa kerabat orang-orang dengan sindrom antifosfolipid lebih cenderung memiliki antibodi tersebut.

Gejala

Tanda dan gejala dari sindrom antifosfolipid dapat mencakup:
1. Gumpalan darah di kaki, yaitu deep vein thrombosis (DVT) yang mungkin dapat berjalan ke paru-paru (emboli paru)
2. Keguguran atau lahir mati berulang dan komplikasi lain dari kehamilan, seperti kelahiran prematur dan tekanan darah tinggi selama kehamilan (preeklampsia)
3. Stroke

Pengobatan

Dokter umumnya menggunakan obat-obatan yang mengurangi kecenderungan darah menggumpal untuk merawat pasien dengan sindrom antifosfolipid. Jika memiliki trombosis, pengobatan awal standar awalnya melibatkan kombinasi obat antikoagulan (pengencer darah). Obat-obatan tersebut, antara lain:

1. Heparin
Biasanya, akan diberi suntikan atau infus darah dengan heparin, yang dikombinasikan dengan pengencer darah dalam bentuk pil, kemungkinan warfarin (Coumadin).

2. Warfarin
Setelah beberapa hari mengonsumsi kombinasi heparin dan warfarin, dokter akan menghentikan heparin dan melanjutkan warfarin, mungkin selama sisa hidup pasien.

3. Aspirin
Dalam beberapa kasus, dokter dapat merekomendasikan menambahkan aspirin dosis rendah dalam rencana perawatan pasien.

 

 

 

Sumber : detikhealth.com

Share

Leave a Reply

Kategori Produk
Madu Herbal Kapsul Herbal Minuman Instan Aromatherapy
Tetes Mata Herbal Paket Herbal Herbal Kering
Kategori Artikel