Featured Product
  Madecol MadeCol merupakan kapsul herbal alami yang antara lain terbuat dari ekstrak daun jati belanda dan akar alang-alang untuk menormalkan kadar kolesterol. Sebagian ekstrak herbal dalam MadeCol juga menggunakan teknologi terbaru yaitu teknologi nano. Dengan teknologi nano , partikel herbal menjadi lebih kecil sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Selengkapnya ... JAMSI   Jamsi secara tradisional bermanfaat bagi penderita diabetes karena mampu memperbaiki sel-sel, menurunkan kadar gula yang tinggi dalam darah, mencegah terjadinya diabetes, menetralisir penyakit,seperti: Hipertensi, asam urat, kolesterol dan Trigliserite. Selengkapnya...

Kelemahan Otot Akibat Peradangan ( Dermatomiositis )

Jakarta, Deskripsi

Dermatomiositis merupakan penyakit peradangan biasa yang ditandai dengan kelemahan pada otot dan ruam pada kulit yang khas. Dermatomiositis mempengaruhi orang dewasa maupun anak-anak.

Pada orang dewasa, dermatomiositis biasanya terjadi dari usia akhir 40-an hingga awal 60-an, pada anak-anak, penyakitnya paling sering muncul pada usia antara 5 hingga 15 tahun. Dermatomiositis lebih banyak menyeran perempuan daripada laki-laki.

Salah satu jenis dermatomiositis adalah polymyositis, penyakit peradangan otot sehingga menyebabkan kelemahan otot yang mengatur gerakan.

Gejala

Tanda-tanda paling umum dan gejala dermatomiositis, antara lain;
1. Kulit berubah warna. Ruam berwarna merah keunguan atau kehitaman, paling sering ditemui pada wajah, kelopak mata, daerah sekitar kuku, buku-buku jari, siku, lutut, dada, dan punggung. Ruam yang merata dengan belang ungu kebiruan merupakan tanda pertama dermatomiositis.

2. Kelemahan otot. Kelemahan otot yang progresif menterang otot-otot yang dekat dengan bagian tengah tubuh seperti pinggul, paha, bahu, lengan atas dan leher. Kelemahan ini mempengaruhi sisi kiri dan kanan tubuh, dan cenderung memburuk secara bertahap.

Tanda-tanda dan gejala Dermatomiositis lain yang mungkin terjadi:
1. Kesulitan menelan (disfagia)
2. Nyeri otot
3. Kelelahan, demam dan kehilangan berat badan
4. Pengerasan endapan kalsium di bawah kulit (calcinosis), terutama pada anak-anak
5. Maag dan borok usu juga lebih sering terjadi pada anak
6. Gangguan pada paru-paru

Penyebab

Penyebab pasti dermatomiositis tidak diketahui, tetapi penyakit ini memiliki banyak kesamaan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang komponen tubuh normal.

Biasanya, sistem kekebalan tubuh bekerja untuk melindungi sel-sel sehat dari serangan oleh zat-zat asing, seperti bakteri dan virus. Tanpa sebab yang diketahui, sistem kekebalan tubuh mulai memproduksi antibodi autoimun (autoantibodi) yang menyerang jaringan tubuh sendiri.

Pembuluh darah kecil dalam jaringan otot adalah bagian yang paling mudah terpengaruh oleh dermatomiositis. Sel-sel yang meradang mengelilingi pembuluh darah itu dan akhirnya menyebabkan kerusakan serat otot.

Perawatan dan obat-obatan

Tidak ada obat untuk dermatomiositis, tetapi pengobatan dapat diberikan untuk memperbaiki kulit dan fungsi kekuatan otot. Tidak ada pendekatan tunggal yang terbaik, dokter akan menyesuaikan strategi pengobatan berdasarkan gejala dan seberapa baik penyakit tersebut menanggapi terapi.

Kortikosteroid
Bagi kebanyakan orang, langkah pertama dalam pengobatan dermatomiositis adalah menggunakan obat kortikosteroid. Untuk mnegatasi dermatomiositis, obat yang dipilih biasanya adalah prednison.

Kortikosteroid adalah obat-obat yang menekan sistem kekebalan tubuh, membatasi produksi antibodi, mengurangi peradangan otot, serta meningkatkan kekuatan dan fungsi otot. Dokter mungkin juga meresepkan kortikosteroid oles untuk kulit.

Dokter mungkin akan mulai dengan resep kortikosteroid dosis tinggi dan kemudian menurun jika tanda dan gejalanya membaik. Pemulihan umumnya membutuhkan waktu sekitar dua sampai empat minggu, tetapi pasien dapat tetap meminum obat untuk beberapa bulan. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat memiliki efek samping yang serius, itulah sebabnya mengapa dokter secara bertahap menurunkan dosis obat ke tingkat yang lebih rendah. Dokter mungkin akan merekomendasikan suplemen kalsium dan vitamin D untuk mengurangi efek samping tersebut.

Tambahan terapi imunosupresif
Jika obat kortikosteroid tidak akan bekerja secara efektif, dokter mungkin menyarankan untuk menambah atau beralih ke obat lain, yaitu;

1. Kortikosteroid-sparing. Ketika dikombinasi dengan kortikosteroid, obat kortikosteroid-sparing dapat menurunkan dosis dan efek samping kortikosteroid. Obat-obat ini antara lain adalah azathioprine (Azasan, Imuran) atau metotreksat (Trexall, Metotreksat, Rheumatrex).

Dokter mungkin meresepkan azathioprine atau metotreksat bersama dengan prednison jika penyakit sangat progresif atau pasien memiliki faktor komplikasi. Beberapa dokter meresepkan obat-obat ini sebagai pengobatan pertama untuk orang-orang yang tidak dianjurkan menggunakan kortikosteroid.
2. Imunoglobulin intravena (IVIG). IVIG adalah darah yang mengandung antibodi murni sehat dari ribuan donor darah. Antibodi sehat dalam IVIG dapat memblokir antibodi yang menyerang otot dan kulit pada dermatomiositis.

Pengobatan ini diberikan dengan cara diinfuskan melalui pembuluh darah. Efek IVIG bermanfaat tetapi tidak berlangsung lama. Infus perlu diulangi lagi setiap enam sampai delapan minggu.

3. Obat imunosupresif lainnya. Tacrolimus (Prograf) adalah obat yang dapat bekerja untuk menghambat sistem kekebalan tubuh. Tacrolimus oles sering digunakan untuk mengobati dermatomiositis dan masalah kulit lainnya. Bentuk sediaan oralnya bermanfaat mengobati dermatomiositis yang berkomplikasi dengan penyakit paru interstisial.

Terapi biologi
Jika kasusnya parah dan pilihan pengobatan lainnya gagal, dokter dapat merekomendasikan salah satu pengobatan garis ketiga untuk mengobati dermatomiositis:

1. Rituximab (Rituxan) telah diteliti pada sejumlah kecil penderita polymyositis dan dermatomyositis mampu meningkatkan kekuatan otot, mengatasi komplikasi paru-paru, dan ruam kulit.

2. Tumor necrosis factor (TNF) inhibitor seperti etanercept (Enbrel) dan infliximab (Remicade) adalah obat yang menargetkan protein kunci penyebab peradangan.

Belum ada penelitian ilmiah yang ada sampai saat ini tentang efektivitas obat-obat untuk dermatomiositis. Jika dokter meresepkan salah satu obat, ia akan memantau pasien untuk memastikan obat bekerja dan memeriksa efek sampingnya.

Pendekatan lain
Pilihan pengobatan lain yang bisa direkomensdasikan dokter meliputi:

1. Obat antimalaria. Untuk ruam, dokter mungkin meresepkan obat antimalaria seperti hydroxychloroquine (Plaquenil) atau klorokuin (Aralen).

2. Penghilang nyeri. Obat-obatan seperti aspirin, ibuprofen (Advil, Motrin, others) dan acetaminophen (Tylenol, orang lain) dapat digunakan untuk mengobati nyeri. Jika hal ini tidak memadai, dokter mungkin meresepkan pereda nyeri yang lebih kuat seperti kodein.

3. Terapi fisik. Seorang terapis fisik dapat menunjukkan latihan untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot dan menyarankan aktifitas yang sesuai.

4. Terapi wicara. Jika pasien mengalami masalah menelan, terapi wicara dapat membantunya belajar bagaimana mengkompensasi perubahan tersebut.

5. Penilaian Dietetic. Ketika mengunyah dan menelan makanan menjadi lebih sulit. Ahli makanan dapat mengajarkan bagaimana mempersiapkan makanan yang mudah dikonsumsi.

6. Bedah. Operasi dapat menjadi pilihan untuk menghilangkan penimbunan kalsium yang menyakitkan dan mencegah infeksi kulit berulang kembali.

 

 

Sumber : detikhealth.com

Share

Leave a Reply

Kategori Produk
Madu Herbal Kapsul Herbal Minuman Instan Aromatherapy
Tetes Mata Herbal Paket Herbal Herbal Kering
Kategori Artikel