Featured Product
  Madecol MadeCol merupakan kapsul herbal alami yang antara lain terbuat dari ekstrak daun jati belanda dan akar alang-alang untuk menormalkan kadar kolesterol. Sebagian ekstrak herbal dalam MadeCol juga menggunakan teknologi terbaru yaitu teknologi nano. Dengan teknologi nano , partikel herbal menjadi lebih kecil sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Selengkapnya ... JAMSI   Jamsi secara tradisional bermanfaat bagi penderita diabetes karena mampu memperbaiki sel-sel, menurunkan kadar gula yang tinggi dalam darah, mencegah terjadinya diabetes, menetralisir penyakit,seperti: Hipertensi, asam urat, kolesterol dan Trigliserite. Selengkapnya...

Obstructive Sleep Apnea Syndrome ( OSAS )

Mendengkur pada orang dewasa sering mengganggu pasangan tidurnya sehingga mudah dideteksi. Sementara pada anak-anak dengkuran sering dianggap sesuatu yang terjadi karena si anak kelelahan.

Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

Dengkuran pada anak-anak seyogianya diwaspadai. Sebab, dengkuran bisa jadi merupakan indikasi terjadinya sumbatan pernapasan saat tidur. Jika tidak ditangani dengan baik, dengkuran dapat menyebabkan komplikasi di kemudian hari, seperti hiperaktif, mengantuk di sekolah, gangguan performance (nilai) di sekolah, bahkan hingga gangguan pembuluh darah.

Demikian pidato Prof Dr dr Bambang Supriyanto SpA(K) dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Aula FKUI, Salemba, Jakarta, Sabtu (10/9/2011). Pidatonya berjudul “Obstructive Sleep Apnea Syndrome pada Anak: Ikhtisar Perkembangan Mutakhir”.

Ia menyampaikan, mendengkur terjadi karena obstruksi atau sumbatan pada saluran pernapasan atas. Tingkatan sumbatan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu hidung, nasofarings, dan hipofarings. Dengkuran pada anak-anak, ujar Bambang, bisa merupakan indikasi Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS).

“OSAS merupakan penyakit gangguan tidur yang berat karena obstruksi (sumbatan) jalan napas atas dengan gejala utama mendengkur (snoring),” kata Bambang.

Pria yang akrab disapa dokter Bambang itu menjelaskan, faktor risiko terjadinya OSAS pada anak antara lain dipicu oleh hipertrofi adenoid dan tonsil, disproporsi kraniofasial, obesitas, umur, jenis kelamin, dan atopi (alergi).

Hipertrofi adenoid dan tonsil merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan OSAS pada anak. Namun, sebagian besar anak pengidap OSAS membaik setelah dilakukan adenotonsilektomi. Sedangkan pada orang dewasa, obesitas merupakan penyebab utamanya.

Manifestasi klinis OSAS terbanyak adalah mendengkur dan kesulitan bernapas pada saat tidur yang dapat terjadi secara terus-menerus (setiap tidur) ataupun hanya pada posisi tertentu.

OSAS dapat didiagnosis dengan polisomnografi (PSG), yaitu alat yang dapat merekam aktivitas anak pada saat tidur. “Dari hasil rekaman dapat dihitung frekuensi henti napasnya per jam yang dapat menentukan derajat OSAS. Nilai AHI 3-5 disebut OSAS ringan, AHI 5-10 disebut sedang, dan nilai AHI di atas 10 disebut OSAS berat,” tuturnya.

Komplikasi OSAS antara lain gagal tumbuh; kelainan kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi, aterosklerosis, dan hipertensi paru; penurunan kinerja; dan enuresis. Rasa mengantuk yang berlebihan pada siang hari dilaporkan terjadi pada 31 sampai 84 persen anak dengan OSAS.

“Keluhan lain yang dapat menyertai OSAS adalah keterlambatan perkembangan, penampilan di sekolah yang kurang baik, hiperaktivitas, sikap yang agresif, sampai pada menarik diri dari lingkungan sosial,” ungkap Bambang.

Untuk anak, OSAS dapat disembuhkan dengan bedah dan media (non-bedah). OSAS juga dapat disembuhkan dengan obat dan diet pada anak dengan obesitas.

 

 

 

Sumber : kompas.com

Share

Leave a Reply

Kategori Produk
Madu Herbal Kapsul Herbal Minuman Instan Aromatherapy
Tetes Mata Herbal Paket Herbal Herbal Kering
Kategori Artikel